BioNews

BSP rambah bisnis gula dan bioetanol
JAKARTA (Bisnis) 2 Juni 2008: PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk akan merambah bisnis industri gula dan pembuatan bioetanol untuk mengembangkan bisnis perseroan itu di bidang agribisnis.

Direktur Keuangan BSP Harry M. Nadir mengatakan sejauh ini pihaknya masih mengkaji berbagai opsi yang bisa dijalankan guna menjalankan bisnis industri gula dan bioetanol.

“Sekarang masih dalam tahap feasibility studies [uji kelayakan], dan masih menghitung dana yang dibutuhkan. Untuk langkah awal kami akan membuat pilot project, namun industri itu akan kami kembangkan secara komersial dalam beberapa waktu ke depan,” katanya kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, dana yang dibutuhkan untuk pengembangan kedua industri itu cukup besar. Selain akan menyediakan dana dari internal, perseroan akan menjajaki pendanaan dari eksternal, baik pinjaman bank maupun obligasi.

Langkah yang ditempuh BSP ini mengikuti aksi korporasi yang dilakukan oleh Indofood yang akan masuk ke industri gula melalui pembelian 60% saham PT Laju Perdana Indah (LPI) senilai Rp375 miliar.

BSP menilai prospek industri gula cukup baik, seiring dengan naiknya permintaan komoditas tersebut di pasar domestik ataupun internasional.

Mengenai lokasi, Harry tidak bersedia memerinci. Perseroan akan memilih lokasi yang paling strategis untuk pengembangan industri itu, yaitu yang terdekat dengan lokasi bahan baku.

Sejauh ini BSP memiliki dua lini bisnis, yaitu perkebunan kelapa sawit dan karet. Untuk kebun kelapa sawit, perseroan sejauh ini memiliki kebun yang sebagian besar berada di Sumatra, dan saat ini mulai mengembangkan di wilayah Kalimantan.

Belanja modal

BSP pada tahun ini membelanjakan US$100 juta, termasuk US$30 juta untuk proyek akuisisi 50.000 hektare lahan. Sebesar US$30 juta digunakan sebagai belanja modal (capital expenditure/capex) untuk perawatan, penanaman ulang, dan perluasan kebun.

Bisnis minyak sawit mentah selama ini menyumbang 73% pendapatan atau senilai Rp1.42 triliun, sedangkan 27% sisanya atau sekitar Rp526,23 miliar disumbang bisnis karet.

Saat ini BSP memiliki lahan kosong (land bank) seluas 100.000 hektare yang siap dikembangkan. Areal tanam sawit saat ini mencapai 87.415 hektare, terdiri dari perkebunan karet seluas 19.670 hektare dan kebun kelapa sawit seluas 67.745 hektare termasuk tanaman plasma.

Jumlah tersebut belum termasuk lahan pengembangan baru di Jambi dan Kalimantan Tengah, masing-masing seluas 2.400 hektare dan 5.500 hektare, dan perkebunan kelapa sawit Agri Resources BV seluas 28.000 hektare.

Harga saham Bakrie Sumatera Plantations pada akhir pekan lalu ditutup di posisi Rp1.950 per saham, atau turun 4,41% dari sesi penutupan hari sebelumnya di posisi Rp2.040.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: